Rabu, 11 September 2013

CATATAN PENGANTAR UMAR JUNUS



Parewa dan Parewa
UMAR JUNUS
Saya harap tak ada yang keberatan bila pengantar ini tak saya tulis dalam bahasa Minang. Sesuai kebiasaan saya, topiknya memaksa saya berlaku demikian. Ada dua keraguan menyangkut diri saya menulis pengantar ini. Teks seluruhnya dalam bahasa Minang dan saya takut kemampuan bahasa Minang saya telah archaic, terikat kepada bahasa awal 50an – saya telah hampir setengah abad berada di luar. Dan ada pemakaian bahasa pada Parewa Sato Sakaki yang saya rasa salah pada “telinga” awal 50an saya. Saya terbiasa dengan kelas, pelor dan balasting, sedang Rusli menggunakan kalaih, peluru dan balasitiang. Telinga awal 50an saya juga merasa aneh bila wanita mewaangkan kawan wanitanya. Atau ada kemungkinan dalam Parewa sato sakaki ini Rusli lebih menggunakan bahasa Minang yang idiolectnya, sebagai yang dipakainya dan itu dianggapnya bahasa nan sabana-bana bahaso Minang. Keraguan lain berkaitan dengan sikap saya tentang kaitan bahasa Minang dan Indonesia yang asalnya Melayu. Ada “kontinuitas” antara bahasa Minang dan Melayu dan ini dilanjutkan dengan Indonesia. Orang Minang juga menggunakan bahasa Melayu.
Mulanya bahasa Melayu digunakan dalam surat-menyurat biarpun antara dua orang yang butahuruf. Kemudian juga dalam suasana lisan yang dianggap suasana bahasa Indonesia – ini antara lain saya bicarakan dalam “Bahasa dalam teks: perbenturan antara bahasa Minangkabau dan Melayu”, Undang-undang Minangkabau, wacana intelektual dan warna ideologi (1997:30-46). Karena bahasa Minang dan Melayu “saudara” , ada kata Minang yang mudah ditemukan cognate Melayunya. Gata adalah gatal dan biso adalah bisa. Tapi ini terhenti setelah bahasa Melayu jadi bahasa Indonesia. Meskipun biso bisa dipadankan dengan bisa Indonesia, tapi tidak setiap bisa Indonesia bisa dibisokan. Yang bisa dibisokan hanya bisa pada bisa ular, tidak bisa pada “Saya tak bisa datang”. Dengan kata lain, tidak setiap kata Indonesia mesti diminangkan. Kalau dilakukan akan ada fenomena pada lelucon ini – saya dengar awal 70an barangkali: Ada seorang Jawa yang karena ingin mendekatkan diri kepada orang Minang berusaha berbahasa Minang pada setiap kesempatan. Sekali ia berkunjung ke A.
Dan ada seorang dari kampung itu yang ia kenal, katakan B, yang jadi duta besar di C. Lalu ia berkata tentang A kepada orang kampung itu dalam bahasa Minang: Kini si B lah jadi duto gadang di C. Ini lalu dibalas orang kampung itu, Memang dari ketek inyo panduto. Karena duta ia minangkan jadi duto, orang kampung lalu mengaitkannya dengan kata duto yang cognatenya dusta. Ini yang saya takutkan pada Parewa sato sakaki ini. Timbul pertanyaan pada saya bila saya temui bentuk sariuih (halaman 4). Dan tambah pusing bila pada halaman 7 saya temui sarius. Menurut saya yang betul serius – setiap saya ke Padang yang saya dengar serius. Contoh seperti ini berulang kali saya temui dan terus terang mengganggu saya membacanya. Saya harap ini salah cetak dan tak akan muncul pada naskah cetak.
Dalam naskah ini banyak salah cetak lain yang saya harap sudah dikoreksi bila dicetak, jangan sampai pengantar saya ini mengantar suatu buku yang penuh salah cetak. Juga saya harapkan Claswick dan Sunt Zu (77) hanya salah cetak, sama halnya dengan adanya labaih-labiah yang berulang kali ditemui.. Saya harapkan ini tidak hasil usaha peminangan kata oleh Rusli. Sesuai ini, saya ragu bila Rusli mengutip baris pertama “Senja di pelabuhan kecil” Chairil pada “Makan bacampua ubi”. Kutipan Rusli adalah “Garimih mampacapek senja” sedang yang asli ialah “Gerimis mempercepat kelam”. Di samping itu saya lebih cenderung menterjemahkan “Bung Besar” jadi ”Bung Gadang” dan bukan “Bung Basa”. Saya juga sempat ragu bila berhadapan dengan dibebaihkan. Pertama ia tak mesti diminangkan, sama dengan kita tak perlu meminangkan kamus jadi kamuih (105). Kedua jika akan diminangkan juga bentuknya ialah dibabean sesuai dengan dilepaskan jadi dilapean. Pada dibebaihkan menurut rasa telinga awal 50an saya ada empat kesalahan.
Di samping tak perlu, peminangannya salah. Yang “betul” ialah babeh, bukan bebaih – “kesalahan” ini saya temui juga bila Rusli meminangkan sibuk jadi sibuik (105) yang menurut telinga awal 50an saya mestinya sibuak. Ketiga /-kan/ mesti dipindahkan jadi /-an/, tak bisa dipertahankan. /-kan/ di sana adalah akhiran bahasa Indonesia. Dan keempat bentuk pasif yang umum dalam Bahasa Minang ialah bentuk nyo. Peminangan yang saya rasa betul untuk dibebaskan ialah nyo bebaskan. Dan ‘Sasudah kota-kota dibebaihkan tantara Soekarno…’ dalam “Ati den taibo” akan jadi: ‘Sasudah kota-kota nyo bebaskan dek tantara Soekarno’ dengan kata bebaskan tetap mengambil bentuk bahasa Indonesia. Saya sempat pusing membaca “Baapo dek sobik goduik bona” yang bahasanya saya duga dialek /o/ Payakumbuh – harap koreksi saya bila salah karena tak ada petunjuk tentang dialek yang digunakan. Pada 108 ada lapaunyo tapi pada 109 ada lopau. Pada dialek ini, menurut pengetahuan saya, kadai akan jadi kodai, tapi pada 108 yang ditemui ialah kadai.
Dan jadi yang juga jadi, pada halaman 108 ditulis jodi. Begitu banyak kesalahan saya temui dan bila saya teruskan pengantar ini hanya akan berupa daftar kesalahan. Mudah-mudahan “kesalahan” ini telah dikoreksi sewaktu ia dicetak hingga catatan saya tadi hanya semata-mata catatan, tak lagi daftar kesalahan. Sesuai catatan Rusli: “Lai banyak sarjana awak, tapi nan mangarang tata bahaso Minangkabau ko urang bule. Awak cadiak malam, bodoh di siang hari…” (“Awak ko gadang sarawa” ia saya lihat ingin agar orang Minang tidak “gadang sarawa”. Karena itu ia berusaha meminangkan hampir setiap kata dalam bahasa Indonesia. Lalu pelukis jadi palukih dan penulis jadi panulih meskipun ini terasa salah pada telinga awal 50an saya. Dan kritis jadi karitih pada “kadaan karitih” (40). Ia memilih menggunakan garimih yang diminangkan dari gerimis. Atau menggunakan kunang-kunang bukan api-api.
Terlepas dari catatan tadi, topik yang diolah Rusli dalam buku ini menarik dan punya nilai sejarah. Ia memori masa-masa yang disentuh Rusli. Namun tetap ada catatan saya. Pertama, karena ia berasal dari catatan pendek di koran, ia tidak bebas perulangan dan ini bisa membosankan. Tapi ini barangkali terpaksa diterima, kecuali formatnya diubah dan ini tak saya sarankan. Kedua, Rusli bicara tentang banyak tempat yang bagi banyak orang, termasuk saya, terra incognita. Untuk menolong orang seperti saya, ada baiknya bila disertakan peta. Ketiga, ada juga data yang saya rasa salah. Pada “Makan bacampua ubi” Rusli menyinggung adanya Heiho dan Seinendang – ejaan yang betul seinendan. Tapi sayang ia lupa Gyugun yang perannya lebih penting. Banyak tokoh militer 45 di Sumatra Barat berasal dari Gyugun.
Pendaratan sekutu di Normandy bukan pertengahan 1941 sebagai dalam “Inyo guntiang den…”, tapi 1944. Pada “Kok indak takuik mati” dikatakan Rusli perkembangan TNI berasal dari ‘Tentera Rakyat Republik Indonesia’, ‘Tentera Keamanan Rakyat’ (TKR) dan TNI. Tapi ingatan membawa saya kepada Tentera Keselamatan Rakyat (TKR), Tentera Keamanan Rakyat (TKR), Tentera Republik Indonesia (TRI) dan TNI. Pada “September kelabu” dikatakan Rusli Fort de Kock dibangun pada ketinggian 1400m. Tapi setahu saya tinggi Bukittinggi hanya sekitar 900m. Warna marewa Minang pada “Makan bacampua ubi” dikatakan Rusli sama dengan bendera Jerman. Secara warna ini betul. Tapi pada bendera Jerman ini berdasarkan garis datar. Yang lebih tepat bendera Belgi yang menegak. Saya akui nada catatan tadi negatif dan saya tak dapat lari darinya. Ini memaksa saya melupakan segi positif pada Parewa sato sakaki.
Dengan menokohkan Parewa Rusli bermain dengan ambiguity tentang posisi sosial seorang parewa dalam masyarakat Minang. Parewa biasa dicurigai karena lebih dikaitkan dengan kehidupan tanpa tujuan. Hanya ikut-ikutan – uru-uru. Dan bukan tak mungkin keterlibatan Parewa dalam PRRI karena ikut-ikutan. Tapi parewa juga punya sisi positif. Ia selalu tampil sebagai penjaga keutuhan nagari dan sistemnya, yang juga terlihat pada peran Parewa dalam Parewa sato sakaki ini. Ini terlihat pada kutipan ini: Karano tanah jo sawah alah basartifikat, murah bana malegonyo. Indah paralu mengurumah(?UJ) anak kamanakan kasadonyo dalam “Potongan kaki dalam sepatu”.
Dapat saya katakan Rusli telah berhasil memberikan gambaran yang saya kira utuh tentang parewa dalam masyarakat Minang. Ada keuntungan tertentu pada saya membaca Parewa sato sakaki. Ada yang aneh saya rasa dalam membaca Awan sanjo bararak diambuih, rumah gadang alah condong … yang ada pada alinea pertama cerita pertama. Kebiasaan mendengar dan membaca kaba membawa saya kepada wacana tanpa lukisan alam. Saya hanya berhadapan dengan orang dan gerak. Dan ini juga pengalaman saya dalam membaca hikayat. Hikayat juga tanpa lukisan alam. Karena itu kehadiran Awan sanjo bararak diambuih angin, rumah gadang alah condong – dan berbagai expresi seperti itu pada berbagai tempat lain - terasa aneh pada saya dan ini menurut saya hanya mencirikan karya modern.
Dengan begini, saya kesan, Rusli mencoba memindahkan ciri yang melekat pada karya modern kepada penceritaan dalam bahasa Minang yang akarnya menurut saya pada kaba. Dan apa yang pada mulanya saya anggap “kesalahan” Rusli berhasil menyadarkan saya akan ciri yang membedakan penceritaan klasik kita, Minang dan Melayu. Ini saya anggap sumbangan berharga Rusli yang memungkinkan saya mengembangkan pemikiran tertentu tentang wacana sastra kita. Kita bisa mengembangkan sesuatu dari suatu ksalahan, dari suatu serendipity sesuai pembicaraan Umberto Eco dalam Serendipities, language and lunacy (1998).
Terus terang hal ini yang mendorong saya terus membaca Parewa sato sakaki dan secepat mungkin menyediakan pengantar untuknya sesuai dengan permintaan sdr. Rusli Marzuki Saria, meskipun nadanya mungkin tidak sebagaimana diharapkan Rusli. Dan sebelum saya tutup catatan ini, saya harapkan penerbit akan menerbitkan pengantar saya ini seutuhnya, meskipun sudah ada peralatan, karena apa yang saya bicarakan kini mungkin ada gunanya untuk orang lain. Paling tidak ada gunanya sebagai catatan tentang fenomena bahasa Minang, sehingga bukan hanya orang asing yang bicara tentang Minang dan budaya Minang, termasuk bahasanya. Dengan ini saya tutup pengantar ini.
Kuala Lumpur, 22 September 2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah memberi komentas

Matonyo Bakunang-kunang

TASINDIA den . Tapanca paluah kuniang den. Tabaka jangguik den. Bamimpi siang hari den. Aden suko dalam dua tangah tigo. Papek dilua runcian...