Parewa dan Parewa
![]() |
| UMAR JUNUS |
Saya harap tak ada yang keberatan bila
pengantar ini tak saya tulis dalam bahasa Minang. Sesuai kebiasaan saya,
topiknya memaksa saya berlaku demikian. Ada dua keraguan menyangkut diri saya
menulis pengantar ini. Teks seluruhnya dalam bahasa Minang dan saya takut
kemampuan bahasa Minang saya telah archaic, terikat kepada bahasa awal 50an –
saya telah hampir setengah abad berada di luar. Dan ada pemakaian bahasa pada
Parewa Sato Sakaki yang saya rasa salah pada “telinga” awal 50an saya. Saya
terbiasa dengan kelas, pelor dan balasting, sedang Rusli menggunakan kalaih,
peluru dan balasitiang. Telinga awal 50an saya juga merasa aneh bila wanita
mewaangkan kawan wanitanya. Atau ada kemungkinan dalam Parewa sato sakaki ini
Rusli lebih menggunakan bahasa Minang yang idiolectnya, sebagai yang dipakainya
dan itu dianggapnya bahasa nan sabana-bana bahaso Minang. Keraguan lain
berkaitan dengan sikap saya tentang kaitan bahasa Minang dan Indonesia yang
asalnya Melayu. Ada “kontinuitas” antara bahasa Minang dan Melayu dan ini
dilanjutkan dengan Indonesia. Orang Minang juga menggunakan bahasa Melayu.
